php hit counter
Apa Yang Dilakukan Startup Sebelum Era Digital
Apa Yang Dilakukan Startup Sebelum Era Digital

Beberapa bulan terakhir saya bertemu dengan tim dari berbagai startup. Satu persamaan di antara mereka adalah tidak ada satupun yang memiliki visi jelas tentang produk yang ingin dibawa ke pasar, atau strategi yang dibutuhkan untuk memasarkan produk tersebut.

Startup tersebut banyak berbicara mengenai permasalahan yang ingin mereka tuntaskan. Dari peluang pasar dan pendapatan yang mereka harapkan, hingga kehebatan anggota tim dan contoh produk yang mereka miliki. Ketika saya bertanya mengenai bagaimana wujud final produk mereka, belum ada deskripsi yang jelas.

Setiap developer bisa saja membuat aplikasi, situs, layanan, platform, atau teknologi hebat untuk dipakai banyak orang. Namun, sebuah produk tidak serta merta dapat diartikan sebagai desain dan teknologi belaka. Maksud saya, harus ada nilai dan inti dari produk yang di kemudian hari mungkin berkembang menjadi bisnis menguntungkan.

Setelah mengidentifikasi masalah yang ingin kamu benahi atau melihat kesempatan emas yang ingin diraih, sebenarnya banyak sekali hal yang bisa kamu lakukan sebelum mulai membangun sebuah produk. Dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut, kamu juga dapat mencari tahu apakah bisnis yang sedang kamu bangun ini memiliki nilai berarti di masa depan.

Definisikan dengan jelas masalah yang ingin dipecahkan

Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat hidup orang lebih mudah dan menyenangkan? Masalah akan selalu berkembang dari waktu ke waktu. Lalu apa solusi yang dapat kamu berikan?

Ketika kita berdiskusi mengenai nilai dari sebuah produk, jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut seharusnya bukan produk yang lebih murah, baik, cepat, pintar, menarik, atau apapun yang terkait langsung dengan aplikasi atau website yang dibuat. Melainkan apa yang orang rasakan atau alami setelah menggunakan solusimu.

Apa yang orang-orang lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?

Banyak layanan produktivitas B2B sebenarnya bersaing langsung dengan programspreadsheet dan produk lainnya. Ini sebenarnya tidak dibuat untuk menyelesaikan masalah spesifik, namun mereka “cukup” baik untuk melakukan pekerjaan tertentu.

Bagaimana kamu dapat mengubah kebiasaan seseorang ketika mereka tidak sadar akan fakta bahwa mereka melakukan hal yang keliru selama ini?

Contoh lainnya, beberapa marketplace B2C pada dasarnya bersaing dengan grup Facebook dan media sosial lainnya. Karena distribusi serta perkembangan Facebook yang sangat baik, banyak fitur yang sebenarnya orang perlukan (dan mungkin ada di produk kamu) terpaksa harus dihilangkan karena pada dasarnya Facebook dianggap sudah “cukup baik.”

BacaAku:   Tips Menciptakan Keseimbangan Antara Hidup dan Karir Anda

Anggaplah bahwa kamu sedang membuat sebuah aplikasi berbagi foto untuk pencintafashion dan ingin mendatangkan influencer dari Instagram ke platform buatanmu. Saat ini, kamu tentu tidak memiliki penawaran apapun. Karena pada awalnya kamu hanya memiliki sedikit pengguna.

Selain itu, para influencer ini sudah memiliki saluran Instagram mereka sendiri dan dapat melakukan apapun yang diinginkan. Lalu, kenapa mereka harus bergabung denganmu?

Coba pikirkan nilai atau manfaat yang sekiranya dibutuhkan, kemudian tawarkan pada mereka agar mereka juga mau bekerja sama denganmu.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya mendekati para influencer itu dan meyakinkan mereka untuk meninggalkan produk yang digunakan sekarang?

Keinginan yang datang dari diri, harga, atau kemudahan? Jawaban dari pertanyaan ini adalah inti dari strategi yang kelak akan kamu gunakan. Sebagai informasi, mereka mungkin akan menolak produkmu mentah-mentah.

Produk pertamamu dapat menyelesaikan masalah apa?

Setiap masalah dapat dipecah menjadi beberapa bagian kecil. Produk pertama yang masuk ke pasar mungkin hanya menyelesaikan sebagian kecil masalah.

Walaupun hanya sebagian, hal ini tentu memberikan rasa kepuasan yang mungkin serupa ketika kamu berhasil menyelesaikan satu masala secara keseluruhan. Hingga pada akhirnya mengarah pada masalah besar yang telah kamu identifikasi.

Produk pertama yang berhasil akan memberikan alasan yang cukup kepada para pengguna agar tetap setia dengan produkmu. Hal ini juga memungkinkan kamu untuk mengembangkan produk lebih jauh lagi, sehingga pengguna menjadi lebih puas.

Pada akhirnya, produk tersebut akan menghasilkan uang karena pengguna rela membayar demi mendapatkan solusi dari masalah yang dihadapi

Apa yang menjadi nilai utamanya?

Pengembangan Produk sebelum Bisnis | Picture 1

Produk pertama Uber memberikan kesempatan bagi para sopir mobil pribadi untuk memanfaatkan waktu luang dengan menerima penumpang dan mengantarkannya dari titik A ke B. Bagi penumpang itu, layanan ini tentu lebih murah bagi, daripada harus membayar sewa mobil untuk waktu yang lama.

Uber menciptakan perubahan, cakupan, dan distribusi produk yang baik sert  sederhana pada waktu pertama kali mereka menawarkan produknya, sebelum memperkenalkan fitur lain yang bisa kamu lihat saat ini.

BacaAku:   HaloDoc: Layanan Konsultasi Dengan Dokter Pilihan Anda Sendiri

Contoh yang lain, Slack bermula sebagai solusi kemudahan komunikasi dalam pekerjaan. Setelah menciptakan basis pengguna yang besar, kini mereka membuat sebuah toko aplikasiuntuk dimonetisasi lebih besar lagi.

Jangan lupakan strategi pasar

Apa strategi kamu untuk menjangkau orang dengan masalah yang telah kamu identifikasi? Bagaimana membuat mereka bersedia membayar solusi yang kamu tawarkan?

Apakah menggunakan cold calling, penawaran door to door, iklan di media sosial, grup komunitas, halaman situs, majalah, papan iklan, atau bahkan menggunakan drone?

Pemasaran bukanlah sesuatu yang hanya boleh kamu pikirkan setelah membuat (desain dan program) produkmu. Kamu dapat memikirkan hal-hal ini sekarang juga.

Di mana target kamu berada? Cari jalurnya dan mulailah berbicara dengan mereka sekarang juga.

Meskipun rencana bisnis telah banyak berubah dan digantikan oleh model bisnis modern seperti Lean Canvas, kamu tetap membutuhkan sebuah strategi. Banyak produk startuptahap awal “dibunuh” begitu saja hanya dengan melontarkan beberapa pertanyaan di atas.

Saya sadar bahwa semua proses ini adalah bagian dari industri besar. Juga, tidak ada yang namanya sebuah aplikasi bodoh. Intinya jangan sampai kita mengeluarkan tenaga dan sumber daya untuk membuat produk yang pada akhirnya tidak membuahkan apapun.

Cobalah melakukan riset dan membuat strategi yang solid sebelum memutuskan untuk terjun ke pasar. Setelah itu, kamu dapat maju ke tahap berikutnya dan mulai memikirkan mengenai UI/UX, mengoptimalkan kode program, server, waktu loading, dan tantangan lain yang datang bersamaan dengan membangun produkmu.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Medium dalam bahasa Inggris oleh Bram Kanstein, dan telah mendapat persetujuan dari penulis untuk diterjemahkan)

Original Content : id.techinasia

Apa Yang Dilakukan Startup Sebelum Era Digital
Tagged on:             
Pilih Kategori